Wisata Sejarah Medan: Menyusuri Bangunan Kolonial. Di akhir 2025, Medan masih menyimpan jejak kolonial yang paling utuh di Sumatera. Dari akhir abad 19 sampai pertengahan abad 20, kota ini jadi pusat perkebunan karet, tembakau, dan kopi, sehingga banyak gedung megah dibangun dengan gaya Eropa klasik. Bangunan-bangunan itu kini berdiri tenang di tengah hiruk-pikuk kota, sebagian masih dipakai, sebagian jadi museum, dan semuanya bikin orang berhenti sejenak untuk foto. Menyusuri Medan kolonial cuma butuh sehari, tapi ceritanya bisa bertahan bertahun-tahun. BERITA BOLA
Kesawan: Jantung Kota Tua yang Bangkit Lagi: Wisata Sejarah Medan: Menyusuri Bangunan Kolonial
Jalan Kesawan (dulu Jalan Hindu) adalah titik nol Medan kolonial. Gedung-gedung putih dengan pilar besar, jendela lengkung, dan atap genteng merah berjejer rapi. Kantor pos lama tahun 1911 masih beroperasi—interiornya kayu jati tinggi, loket kuningan, dan jam dinding antik yang masih berdetak. Gedung bank tua di seberangnya kini jadi kafe, tapi plafon lukis dan lantai marmer masih asli. Malam hari, lampu-lampu klasik dinyalakan, dan Kesawan berubah jadi spot foto paling hits—banyak pasangan prewed dan turis yang datang hanya untuk berjalan kaki 500 meter ini.
Kantor-kantor Megah di Sekitar Merdeka Walk: Wisata Sejarah Medan: Menyusuri Bangunan Kolonial
Lapangan Merdeka (dulu Esplanade) dikelilingi bangunan kolonial yang masih gagah: Balai Kota Lama (1908) dengan menara jam dan balkon besar—sekarang jadi museum kota, masuk gratis dan ada pameran foto Medan jaman dulu. Gedung London Sumatra (1920-an) masih dipakai kantor, tapi dari luar tetap indah dengan dinding putih bersih dan pilar Ionic. Kantor PT Perkebunan VI di Jalan Balaikota punya pilar raksasa dan tangga melengkung—kadang boleh masuk kalau ramah sama satpamnya. Pagi hari paling sepi, cahaya masuk lewat jendela tinggi bikin suasana seperti film lama.
Stasiun Kereta dan Tjong A Fie Mansion
Stasiun Medan Lama (1917) masih aktif melayani kereta bandara. Atap besi cor, pintu kayu besar, dan loket tua bikin orang langsung nostalgia. Dari luar, menara jam dan ornamen besi khas Belanda jadi spot foto wajib. Rumah Tjong A Fie di Jalan Ahmad Yani adalah permata tersembunyi. Dibangun 1900 oleh saudagar Tionghoa terkaya di Medan, rumah ini campur gaya Tionghoa, Melayu, dan Eropa—ada altar leluhur, kaca patri Belgia, dan halaman dalam yang sejuk. Tur berpemandu setiap hari, cerita tentang Tjong A Fie yang membantu membangun Medan modern selalu bikin orang takjub.
Masjid Raya dan Istana Maimoon: Kolonial Bertemu Kesultanan
Meski bukan bangunan Belanda, Masjid Raya (1906) dan Istana Maimoon (1888) berdiri berdampingan dengan gedung kolonial, membuktikan Medan memang kota yang merangkul semua. Masjid dengan kubah hitam dan lampu gantung kristal, istana dengan meriam tua dan singgasana kuning—keduanya wajib masuk rute karena tanpa mereka, cerita kolonial Medan nggak lengkap.
Kesimpulan
Menyusuri bangunan kolonial Medan seperti membaca buku sejarah yang hidup. Gedung-gedung itu sudah melewati dua perang, kemerdekaan, dan modernisasi, tapi masih berdiri dengan anggun. Datang pagi biar nggak panas, pakai sepatu nyaman, dan siapkan kamera—karena setiap sudut punya cerita yang nggak bisa diulang. Medan kolonial bukan cuma masa lalu; ia adalah alasan kota ini tetap punya jiwa sampai sekarang. Selamat berjalan kaki, dan sampai kamu pulang dengan ratusan foto dan satu cerita baru tentang kota yang nggak pernah diam.